Diposkan pada Disney

Frozen

frozen-movie-review

Di sebuah kerajaan bernama Arendelle, terdapat dua orang putri kerajaan bernama Elsa dan Anna. Berbeda dengan saudarinya, Elsa memiliki kemampuan sihir untuk menciptakan salju dan es. Hal tersebut disembunyikan oleh kedua orang tuanya untuk menghindari ketakutan dari rakyat sampai Elsa mampu mengontrol kemampuan sihirnya tersebut. Isolasi tersebut akhirnya berakhir pada hari di mana Elsa dinobatkan menjadi Ratu Arendelle menggantikan kedua orang tuanya.

Sayangnya, hari penobatan tersebut harus diakhiri dengan bencana karena Elsa tidak mampu mengontrol kemampuan sihirnya tersebut dan melarikan diri dari kerajaan menuju Gunung Utara untuk mengasingkan diri. Bencana Arendelle tidak berhenti sampai di sana, karena tanpa pengetahuannya, Elsa telah menciptakan salju abadi di musim panas dan menutupi seluruh Arendelle.

frozen-disney-ana-olaf-kristoff-sven-570x294

Anna, adik dari Elsa, memutuskan untuk mencari sang kakak untuk menghentikan malapetaka salju abadi dan mengembalikan musim panas di Arendelle kembali. Perjalanannya, tentu saja, tidak akan mudah. Berhasilkan Anna membujuk sang Ratu Salju untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala?

Kisah Putri Disney yang Berbeda nan Klasik

Jika Anda pernah menonton film “Tangled”, maka Anda akan mendapatkan nuansa yang hampir serupa. Visual yang sangat memanjakan mata sudah menjadi bagian dari film animasi saat ini, terutama animasi 3D. “Frozen” menawarkan berbagai sajian grafis dan visual yang detil serta berwarna, baik dari segi karakter maupun lingkungannya. Tema utama dari film animasi ini memang musim dingin dan menampilkan melulu salju yang serba putih, tetapi hal tersebut tidak mengurungkan niat Disney untuk tetap menyajikan keindahan dari sebuah musim dingin di dalam film “Frozen” ini. Musik dan lagu yang disusun secara apik dan menarik juga turut mengambil bagian yang nampaknya sulit untuk dipisahkan dari berbagai film animasi Disney, di mana aspek musikal ini telah menjadi salah satu bagian kuat dari film animasi Disney sejak dulu.

disney-frozen-kristoff-sven-570x294

Dari segi cerita, karena “Frozen” merupakan hasil adaptasi dongeng klasik yang digubah ulang, maka Anda akan menemui alur cerita yang terbilang biasa saja. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah yang berarti karena “Frozen” cukup berhasil menyajikan perkembangan karakter serta drama dan kejutan yang tak terduga dengan baik. Hal tersebut juga diperkuat dengan moral serta inti cerita yang tidak mengikuti stereotipe seorang puteri yang butuh diselamatkan oleh pangeran, Anda akan menemukan kisah puteri yang cukup berbeda dari stereotipe tersebut di dalam film “Frozen” ini. Tak terkecuali beragam adegan lucu dan jenaka dari para tokohnya yang bisa membuat Anda tertawa terpingkal-pingkal sepanjang film berlangsung.

Sebagai salah satu dari sekian banyak film animasi yang hadir untuk penghujung akhir tahun 2013 ini, “Frozen” bisa menjadi pilihan film musim dingin yang cukup layak untuk ditonton untuk berbagai kalangan. Jika Anda berniat untuk mengajak keluarga atau anak-anak Anda menonton film ini di bioskop, ada baiknya juga untuk mencoba menonton film ini dalam format 3D untuk lebih menikmati suguhan aksi 3D yang dikemas dalam film “Frozen” ini.

frozen-disney-elsa-570x294
Diposkan pada Disney

Tinker Bell

Di film ini diceritakan bahwa selain peri yang tinggal nyaman ditempatnya yang nyaman, namun juga ada dunia lain disamping Pixie Hollow yang dihuni peri-peri salju yakni Winter Land. Tentu saja para peri salju ini hidup di suhu yang dingin, berbeda dengan kehidupan di Pixie Hollow yang temperaturnya hangat.Suatu ketika, saat Tink dan Fawn sedang menggiring hewan ke WinterLand melalui perbatasan antara kedua daerah itu, Tink tertarik untuk menyeberanginya. Padahal, ada peraturan yang menyatakan bahwa peri-peri di dua daerah yang berbeda itu TIDAK BOLEH menyeberang satu sama lain. Peraturan ini sendiri dibuat untuk melindungi sayap mereka agar tidak rusak.Namun Tink, dengan watak keras kepalanya, bersikeras ingin pergi ke Winter Land. Keinginannya itu bukan tanpa alasan, saat menyeberang ke Winter Land, sayap Tink berkelip. Kejadian itu membuatnya ingin tahu apa yang menyebabkan itu terjadi. Namun sayang, buku yang menjelaskan tentang ‘Sparkling Wings’nya sudak tidak utuh karena dimakan ulat penjaga perpustakaan. 

Dari informasi seorang pembaca di perpustakaan itu, diketahui bahwa penulis buku itu adalah ‘The Keeper’, seorang peri salju. Rasa penasaran yang sangat besar membulatkan tekad Tink untuk pergi ke daerah dengan suhu dingin yang bisa membekukan sayapnya itu.Untuk menghadapi cuaca yang dingin, Tink membuat sebuah mantel khusus untuk digunakannya selama di Winter Land. Dengan menumpang keranjang Burung hantu, diapun menyelinap meninggalkan Pixie Hollow.

Setelah menempuh perjalanan yang menegangkan, akhirnya dia sampai di tempat ‘The Keeper’ berada. Disana dia bertemu seorang peri yang sayapnya juga berkelip. Setelah dilihat dari dekat ternyata mereka berdua mirip. Hanya baju dan rambut mereka yang memiliki style berbeda.

Dari The Keeper yang nama aslinya adalah Dewey, mereka mengetahui bahwa keduanya adalah saudara kembar yang tercipta dari tawa yang sama.

Mulai saat itu mereka bertekad untuk selalu bersama meski dunia mereka berbeda.Banyak hal menyenangkan yang Tink lakukan bersama saudarinya, Periwinkle dan teman-teman Periwinkle, Gliss dan Spike. Tapi itu hanya sebentar karena Lord Malori menemukan Tink dan memaksanya kembali ke Pixie Hollow. Tak kehilangan akal, Tink membuat janji untuk bertemu lagi dengan Periwinkle keesokan harinya. Sebelum tiba waktunya mereka bertemu, Tink mengerahkan semua tenaganya, dibantu teman-temannya untuk membuat sebuah alat sehingga Periwinkle bisa bermain-main di Pixie Hollow.Saat tiba waktunya, Tink mengajak Periwinkle berkeliling melihat kupu-kupu dan bunga bermekaran. Tentu saja dengan bantuan alat yang dibuat Tink yaitu berupa sebuah serutan es.

Tapi saat bongkahan es itu habis, sayap Periwinkle layu.

Menghadapi hal ini Tink sangat panik. Lord Malori yang mengetahui hal itu dengan tegas melarang mereka berdua bertemu lagi.Keduanya pun kembali ke tempat mereka seharusnya berada. Dari Ratu Clarion dan Lord Malori, mereka akhirnya tahu alasan dan asal usul dibuatnya peraturan yang melarang mereka menyeberang satu sama lain. Apakah itu?Oh oh, dan alat yang dibuat Tink –serutan es- yang dibuang Lord Malori di sungai perbatasan ternyata membuat bencana! Cuaca tidak seimbang lagi dan Pohon debu pixie terancam punah! Tink terbang ke Winter Land untuk mencari bantuan dan membuat sayapnya patah.

Bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah kehidupan nyaman Tink akan berakhir? Bagaimana pula nasib para peri dengan keadaan pohon debu pixie yang terancam tidak memproduksi debu ajaib lagi?Di film ini tidak ada lagi adegan romantis Tink dan Terrence karena Terrence cuma muncul di akhir, palingan cuma 2 detik ;'(

Namun kisah asmara mereka digantikan oleh kisah asmara kawan Tink, Rosetta dengan peri salju Sled.

Juga ada kejutan kisah cinta Queen Clarion.

Saudara kembar memang memiliki banyak persamaan, contohnya Tink dan Periwinkle. Mereka berdua sama-sama gemar menyimpan barang ‘buangan’ dan juga suka memakai bulu di atas sepatunya dan banyak lagi kemiripan mereka.

Lihat deh, ekspresinya aja sama

Tapi awalnya gue –yang biasanya lihat film durasinya sekitar 2jam’an-, ngerasa “nih film cepet banget abisnya”.Tapi Overall ceritanya bagus. Yang ditonjolkan disini memang persaudaraan Tink dan Periwinkle. Jadi ya semua scene, ada mereka berdua. Coba kalo diselingi kisah Rosetta dan Sled atau Tink memperkenalkan Terrence ke Periwinkle dan mereka jadi temenan, pasti lebih menarik. (Haha yaa terserah yang buat cerita dong!)